follow us

(kenyataan) Kondisi Pendidikan di Indonesia dan Dunia

Rasanya ada yang keliru dengan sistem pendidikan kita saat ini di Indonesia maupun di Dunia. Apa Itu ????


Sumber gambar: https://regiononereport.com/2013/11/15/more-on-common-core-and-our-board-of-education-has-interacted-with-the-public-on-this-not/

Beginilah kondisi pendidikan yang sebenarnya terjadi di Indonesia dan bahkan Dunia :

Anak-anak dikirim ke sekolah untuk belajar dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia nyata. (Tapi) kenyataannya tidak seperti itu.


Tapi sekolah tak banyak berubah selama sekian Puluh bahkan Ratusan tahun. Banyak ahli di seluruh dunia setuju bahwa sistem pendidikan saat ini dirancang di era industri untuk pekerjaan di pabrik. Dan mentalitas ini masih berjalan di Sekolah - sekolah.


Anak-anak dididik dengan setumpuk tugas, dan mengatur kehidupan mereka dengan dering lonceng. Sepanjang hari , siswa tidak melakukan apapun selain mengikuti petunjuk. "Duduk, ambil bukumu, buka halaman 45. Selesaikan soal nomor 17, berhenti bicara dan konsentrasi".

Di sekolah, anda dihargai untuk melakukan apa yang anda diberitahu. Ini adalah nilai-nilai era industri yang benar-benar penting bagi pekerjaan pabrik. Keberhasilan mereka bergantung pada instruksi dan melakukan persis apa yang diberitahu.

TAPI , , di dunia saat ini, apa yang bisa kamu capai dengan hanya mengikuti petunjuk ? Di dunia modern orang-orang harus bisa menjadi kreatif, dapat mengkomunikasikan ide-ide mereka dan berkolaborasi dengan  orang lain.

Tapi anak-anak tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam suatu sistem sekolah yang didasarkan pada nilai-nilai Era Industri.

Di sekolah, anak-anak kurang mempunyai otonomi dan kontrol. Setiap menit dari kehidupan seorang anak dikontrol ketat oleh sistem. Tapi di dunia saat ini, jika anda melakukan sesuatu, maka kamulah yang menentukan waktumu sendiri. Kamu membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus kamu lakukan dan kapan kamu melakukannya.

Tapi, hidup di sekolah sangat berbeda. Sistem ini seakan mengirim pesan untuk anak-anak, bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Mereka hanya perlu mengikuti apapun yang ditetapkan, bukannya mengambil alih dan menentukan arah hidup.

Para ahli percaya otonomi sangat penting untuk anak-anak. Ini tidak mengherankan kemudian bahwa anak-anak mulai bosan dan kehilangan motivasi oleh sekolah. Bagaimana perasaanmu jika kamu diperintah apa yang kamu lakukan di tiap kehidupanmu ?

Sebagian besar pembelajaran yang terjadi di sekolah hari ini tidak otentik. Karena bergantung pada hafalan. Kondisi ini mendefinisikan satu set generik pengetahuan bahwa semua anak harus tahu. Dan kemudian , setiap beberapa bulan, kita mengukur berapa banyak pengetahuan yang bertahan dengan cara memberikan ujian.

Kita tahu bahwa belajar tersebut tidak otentik karena sebagian besar itu hilang sehari setelah ujian. Belajar bisa jauh lebih dalam dan lebih otentik. Ini bisa menjadi lebih dari sekedar menghafal dan retensi.

Tapi itulah satu-satunya hal yang diukur di sekolah, dan nilai tes adalah satu-satunya hal yang kita hargai. Hal ini telah menciptakan sebuah budaya yang sangat tidak sehat bagi siswa, orang tua, dan guru. Anank- anak menghabiskan waktu berjam-jam utuk menghafal dan mereka akan melupakannya segera. 

Tidak ada ruang untuk passion dan hobi. Kita memiliki sistem di mana setiap anak harus belajar hal yang sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama. Ini tidak sesuai dengan kodrat manusia, bahwa masing-masing dari kita adalah unik dan berbeda, memiliki cara sendiri untuk hidup. Kita memiliki ketertarikan dan hobi yang berbeda bukan? dan kunci kebahagiaan hidup adalah menemukan dan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.


Tapi apakah sekolah-sekolah saat ini membantu anak-anak menemukan gairah hidup mereka atau bahkan malah mengekang kehidupan mereka ?

Tampaknya tak ada ruang dalam sistem saat ini untuk pertanyaan penting dalam kehidupan seorang anak.

Apa keahlianku ?

Apa yang ingin ku lakukan ?

Apakah keahlianku telah sesuai dengan kebutuhan hidupku nanti ?

Namun sitem pendidikan kita seakan tak peduli dengan kenyataan ini. Ada banyak orang berbakat yang gagal dalam sistem sekolah tradisional. Untungnya, beberapa dari mereka mampu mengatasi kegagalan ini. Lantas, bagaimana dengan mereka yang tidak mampu mengatasinya ?

Hal yang menjadi pokok adalah bagaimana keluarga mendidik anak sejak dini, dari segi akhlak dengan memperhatikan aspek keperluan hidup anak di masa depan.

Dibagikan oleh Judi Anto ( Lecture in STIE NIBA BUSINESS SCHOOL CIBITUNG) melalui akun facebooknya.

Berita Terkait :